Followers

Popular Posts

Search

Ketik kata yg ingin dicari, kemudian tekan enter

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2014

Malam

          No comments   
sumber photo: flexmedia
Dari balik selendang malam 
cuaca dingin dengan tenang datang 
menyelinap, melabur tiap sendi dalam diri 
Menyapa rasa asa yang sempat diam kelam, 
beku membatu bangun melintas lemas ... 

Duhai malam.... 
Pena tadi hari telah habis kau kikis 
Kini..... 
Peluklah daku dalam nyenyakmu 
dan untuk pagi yang kunanti 
Sempatkan aku jemput hari kembali

Untukmu... Sepedahku

          No comments   
photo diambil saat menembus batas ruang tinggi
dari Rancakole ke Cibeureum Pangalengan, Kab. Bandung (19-02-2014)
Dina welasan taun, anjeun geus jadi batur kuring nu pang satiana. 
Peuting nu sepi jempling, poek mongkleng tur tiis nu matak tiris, kitu deui wanci beurang tengah poe nu panas mentrang, taya carita dina diri anjeun pikeun baha kana pangajak kula. 
Anapon mangsana hujan turun, can kabejakeun jadi alesan piken anjeun embung nganteurkeun. 
Mang pirang-pirang tujuan nu ku kuring dipiharep geus anjeun tedunan nepi ka kalakonan. 
Loba carita nu baheula geus jadi lalakon hirup urang duaan. 
Kasedih tur kapeurih, kasenang jeung kabagjaan, estu kasaksian jeung karandapan ku anjeun jeung urang. 
Sanajan awak hidep geus rempo, taya ajen sakur nu nempo, pikeun kula mah anjeun gede pisan jasana.
Hampura kuring can bisa mapaesan rasa tumarima ieu kukahadean nusatara. 
 Kahatur ka #SiMeongCongkok sapedah kolot

Sabtu, 01 Juni 2013

Ketika Ciri Hidup Adalah Gerakan

     ,      No comments   
Hari membuka matanya kembali
Malam temaram kini pergi perlahan hilang
Dan sepeda tua ini harus jua kukayuh kembali
Menembus putaran waktu
Mengenyam jarak lahan terbentang

Jika hidup ini berciri khas dengan geraknya,
Kinilah saatnya kuawali dan isi hidup itu dengan kehidupan, dengan gerakan
Dan cukupkan Allah Sang Maha Hidup menjadi saksinya
Dan kau, duhai sayangku,
Semoga kau menikmatinya....
 
Salam kehidupan
Salam berjuang...
***
 
Bandung, 23 February 2013

Ketika Cinta Tercitra Memaksa

     ,      No comments   
Adakah fikirmu sudah menyelam sedalam lautan
akan realita yang pernah kita alami
akan kejadian yang sempat kita hadapi
hingga kau temukan kilauan permata kesimpulan yang berharga?

Adakah fikirmu melambung tinggi ke angkasa makna?
tentang Apa sebetulnya yang pernah kulakukan?
Tentang apa yang pernah kuperbuat selain ucap?

Yang kurasa,
tak ada dalam niat dan gerak yang ada
dalam langkah dada dan ragaku
tergores makna wujud buat memaksa

Tapi entahlah apa yang kau lihat dan rasa
hingga kau kembali dan terus kembali menilai sebalinya

Bukan aku ingin mendapat penilaian baik di matamu
bukan pula ingin penilaianmu sama denganku
bukan pula rasaku berkata aku yang paling benar tentang semuanya
tentang asaku, niat dan tekat aku mencinta
tentang janjiku yang kini hanya bersisa setumpuk kotoran dosa yang tak tahu dengan apa kumembasuhnya
hanya kata maaf dan maaf yang baru bisa kubuat

Jika kesimpulan itu buah dari kedalaman logika mencerna
Dan jika pandangan itu buah dari ketinggian engkau melihatnya
Maka...
Maafkanlah aku yang tak bisa menggambarkan rasa cinta ini dengan sebenar-benar adanya
Maafkanlah aku yang selama ini sudah berwujud Sang Pemaksa di matamu
***

Bandung, 10 Januari 2013

Di Panyileukan Aku Tenggelam

          No comments   
Dalam senyapnya waktu yang bergulir di ujung senja
Tengadah mataku membidik luasan angkasa
Memar merah awan di sana
Hitam biru pucuk pegunungan di arah sebrangnya

Kini kusaksikan kembali mentari tenggelam
Sementara aku terdiam
Aku masih duduk termangu
Aku masih diam membatu
Di sini
Di tempat ini

Di Panyileukan aku tenggelam
Menyaksikan berulang-ulang mentari terbit-terbenam
***
Bandung, 2 Maret 2013

Jumat, 31 Mei 2013

Ada Apa dengan Manusia?

          No comments   
Ketika malam menepati janjinya
akan datang dikala mentari terbenam
akan pergi di tiap kali fajar kembali

Ketika air menepati janjinya
akan mendidih dikala panas menerpa
akan beku di saat dingin merayu syahdu

Di saat aku bersama mereka
Ketika hidupku dikelilingi mereka
Ujaran janjinya
semua menjadi nyata
semua menjadi pasti
semua ujarannya terbukti

Di saat manusia bersama mereka,
Tak henti-hentinya mereka menebar sifat pasti
Hingga manusia menjadi pintar ilmu astronomi, 

pintar ilmu matematika, fisika, kimia, dan ilmu pasti lainnya

Namun Entah Mengapa..

Ketika manusia bergaul dengan manusia lainnya,
Ilmu yang lahir bukanlah ilmu pasti
yang banyak lahir adalah ilmu Apologi
yang lahir adalah ilmu retorika dusta,


Yang berkembang dari pergaulan bersama mereka adalah hasrat kekuasaan,
Seakan kebohongan adalah magnet kesucian
yang ujung positif untuk berjaga diri

dan ujung negatif buat mengelabui

Ada apa dengan manusia??

Kurindukan Ashabul Kahfi

          No comments   
Kuingin masuki goa dan bermalam dalam naungan suci para Ashabul Kahfi
Biar di sana kutemukan ketenangan, keteduhan, keteguhan.
Kuingin kelilingi tepian pantai dalam jabatan tangan Hidir sang mu'alim,
Biar kuraba teka-teki dunia dalam penuh tanda tanya,
Biar kusapa mereka dengan suka cita para pengembara

Di goa sana...
Biar kulabuhkan pandangan, curahkan renungan, serap hikmah penghayatan.
Dindingnya berlumut basah kuyup, lembab, sejuk.
Baunya khas kemurnian alami batu, tanah, pasir dan kerikil.
Bersama kelelawar hitam aku berbincang.
Bersama semut-semut kecil bersemangat besar kita berujar perjuangan.

Duhai kawan..
Andai saja goa itu telah penuh sesak oleh kawan-kawan lainnya,
Biar saja lawang pintu itu jadi tempat buat aku duduk  bersandar
Biar saja kujadi anjing penjaga setia kalian semua
Tak mengapa...
Asalkan aku bersama kalian
Karena aku tak kuasa menahan gelora rindu dekap persahabatanmu

Di Pantai, Kurunuti Musa dan Khidir

          No comments   
Di ujung mata memandang
Dari pantai tempat berdiriku bersemedi
Kala mentari menyengat keringat, menyangrai pasir pesisir
Langit tampak menyatu bersama bumi
Garis lintang cakra buana tak kujumpa di sana
air laut, awan gemawan, semua biru tak berdebu.

Sayang, sapa itu membuyarkan
Teriak sang teman itu memecah ombak berarak
Mengajak aku bercengkrama dalam buliran pasir yang terbasahkan ombak lelah menumpah

Di tempat seperti ini kudengar kabar menakjubkan
Tentang sejarah perjalanan para pencari kebenaran
Tentang dua sosok manusia pembesar agama.

Akankah telapak kaki yang tengah mengukir pasir ini akan seperti kisah mereka?
Kutanyakan itu pada asa yang tersisa
Kutanyakan itu pada hati yang merasa
Kutanyakan itu pada langkah yang melangkah

Renungan Bimbang

          No comments   
Kerap kubertanya pada kenangan yang sempat kulukiskan
Kerap kubertanya pada asa yang melintas dalam bayang-bayang masa depan

Tentang eksistensi diri yang sedikit punya arti
Tentang waktu yang tak jua kuisi dengan makna yang berguna
Akankah lebih baik aku diam bisu tak berkata?
Akankah lebih baik aku diam kaku tak bergerak?
Ataukah aku berteriak saja bersama halilintar dan petir?
Ataukah aku berlari saja bersama derasan angin yang mendorong hujan?
 
Dalam sela waktu sepi menanti jawaban pasti,
Dari semak belukar pertanyaan,
masa silam itu kini bersaksi, berujar:
Aku adalah sejarah yang berguna bila kau ambil hikmahnya
Aku hanyalah masa lalu yang memberatkan jika kau hiasi ratapan
Sudahlah... tak usah kau berglimang duka kala menatapnya
sudahlah... tak usah tatapku penuh pesona seperti itu
Aku padamu penuh coretan hitam, putih, dan warna-warna cerah lainnya
Biarkan aku menampung bekas jejak langkahmu dalam ceruk-ceruk sejarah baru
Berangkatlah, bergeraklah, berkaryalah...
Suguhi aku kisah berwarna bolu rainbow dan kopi susu sekhas karyamu...
 
 
Dari samudera asa dan logika
Bandung, 19 Mei 2013 

Resah

          No comments   
Di dunia maya aku berdiam menunggu kabar
Tentang hidupmu hari ini
Tentang pemikiran, perasaan, dan obrolan
Tentang senyuman yang selalu kau taburkan

Berkali-kali dalam sehari
Bertubi-tubi aku hampiri
Hanya sekedar ingin kuobati rasa penasaran ini
Biar rasa kerinduan bisa kuuraikan

Nyatanya...
Alamatmu hanya menyisakan dinding-dinding kosong
Kotak suratmu seakan mulai berkarat tanpa isi, tanpa pesan
Rumah mayamu seakan tak bertuan..

" Sayang, harus ke mana kucari kabar...??"


Dalam senyap kota Bandung, 19 Mei 2013

Rabu, 29 Mei 2013

Langkah Nur Falah

          No comments   
Di pagi itu... 
Bersama rintik hujan kau tetap berjalan
Di sela liku-liku pematang persawahan 

Dengan tanah yang basah kau tetap melangkah 
Bersama tas gendong warna hitam 
Dengan sepatu sport yang mulai usang 

 Semangatmu tak pernah pudar 
Meski alam seakan merintang 
Meski lelah kian menjalar 

Hari-harimu adalah perjuangan torehkan garis-garis pembuktian 
Tentang asa dan cita yang kau ukir hingga menjadi realita 

Langkahmu pagi ini adalah seberkas harapan yang terbentang 
Dan aku, waktu, beserta detak jantungmu, kini menjadi saksi 
Akan kesabaran engkau berikhtiar 
Akan kebesaran engkau punya harapan 
Akan kekuatan tekat yang engkau genggam 

Selamat jalan sayang... 
Insya Allah do'aku kan selalu terujar

#Bandung, 12 Juli 2012

Sabtu, 11 Februari 2012

Indonesia di Panggung Serakah

          No comments   
oleh: Purnawarman


Beragam hikmah, beragam anugrah, beragam kisah,
bersatu padu dalam luasnya hamparan nuansa namamu, duhai Indonesiaku..!
Harumnya semerbak kisah indahmu, hiasi tiap inci tanah yang berkah itu
Likuan sungainya menjulur bebas menembus setiap lahan pertanian dan pegunungan
Betapa subur negeri itu, duhai Indonesiaku..!!
Seindah sutra cakra buana, hamparan pasir putihmu membentang seujung mata memandang
Dilengkapi bahan tambang yang melebihi kalkulasi harta Qarun zaman Fir’aun
Sungguh aku terpedaya oleh kisah limpah ruahnya alam rayamu
Indonesiaku,
Di sudut desamu aku lahir dibesarkan
Sewaktu kecil itu aku terbiasa melihat indah cerahnya siangmu, menggigil rasakan segarnya cuaca malammu
Aku pun ingat, saat itu bintang jadi saksi akan musim yang kan berganti
Saat itu bulan jadi patokan antara panas dan hujan
Saat itu buah segar bisa kupanen dari tangkai, bisa kucicip dengan lahap penuh nikmat.
Indonesiaku,
Kisah itu, kisah silam masa lalu yang kini pergi dan entah kapan jua kan kembali
Di sudut perantauan kota, pemandangan indah itu sulit jua tuk kujumpa
Limbah-limbah kini hitam pekat mencelup sungai dan sumur
Ilalang gersang jadi penghuni pegunungan, sementara bantaran sungai jadi pemukiman
Dan hujan pun tak lagi jadi simbol kesuburan
Dan, itu adalah engkau kini, Indonesiaku.
Indonesiaku,
Andai saja emas permata, atau bensin dan batu bara itu tak layak untuk kami nikmati,
Lalu dimana buah segar itu?
Sampai kapan kami harus nikmati perasa esen campur pewarna tekstil demi sensasi buah segar itu?
Di mana ikan segar hasil luasnya lautan itu?
Di tengah kisah sejarahmu yang mungkin dulu kelam berabad-abad silam
Tenggelam dalam tragisnya penjajahan dan perpecahan
Amat jelas kulihat teriak kuat sabar mereka bergeliat bangkitkan semangat menerjang lawan, menghantam para penindas, menyongsong kemerdekaan
Indonesiaku,
Di tengah hiasan kemegahan yang kini berganti lantunan kegetiran dan harapan dalam derasnya seribu puisi untukmu, aku ikut bermunajat,
Andai saja kesabaran dan keimanan telah tercerabut dari dada dan mental kami,
Harus dengan apa lagi kami menghadang kengerian masa depan ini?
Indonesiaku, jangan kau tambah parah kesakitan dan penderitaan raga ini dengan terus kau fitnah kami dengan teroris..!
Indonesiaku, harus ke mana lagi kulihat sisi kebesaran kayamu?
Harus ke mana lagi kulihat sisi elok parasmu?